Alunan batang-batang bambu yang beradu kian memenuhi ruangan dimana kuberada saat itu. Terlihat Pak Adang melenggak lenggokkan tubuhnya sambil memukul mukul papan putih dengan sebuah stik drum. Ia melakukan hal tersebut agar irama yang kami mainkan tidak melenceng dari jalur. Ya, saat itu aku dan teman temanku sedang berlatih memainkan angklung untuk sebuah penampilan didepan siswa-siswi dari berbagai belahan dunia di kemudian hari. Kulihat matahari mulai menjauh dari atas kepalaku menuju ke barat. Aku keluar dari ruang kesenian di sekolahku dulu, SMPN 1 Cikembar. Awan mulai berkumpul dan membuat langit mendung sehingga aku bergegas pamit pada guruku saat aku masih memakai seragam putih biru dan segera kulangkahkan kakiku untuk pulang.

Hari itu hari rabu. Ketika aku menaiki sebuah angkutan umum yang ada di benakku yaitu aku harus segera berangkat ke kota pada pukul setengah empat. kulihat handphoneku, masih ada waktu sekitar 90 menit sebelum aku harus berangkat. Kurasakan tepukan-tepukan kecil di pundakku. Yang terbersit di pikiranku saat itu adalah tindak kriminal berupa hipnotis yang sedang marak di televisi. Segera ku menoleh dengan cepat. Ketika kulihat kebelakang, ternyata yang kudapati adalah kak Hendra. Aku sangat malu saat itu. Kak Hendra adalah teman kakakku sekaligus temanku yang sering berkunjung untuk bermain di rumahku. Setelah mengobrol dan bersenda gurau, akhirnya tiba saatnya bagiku untuk berkata ‘kiri’. Aku turun mendahului kak Hendra. Ia turun bersamaan denganku karena rumahnya tak terlampau jauh dari tempat tinggalku.

Saat turun dari angkot, atau angkutan kota, aku segera membayar tarif dengan uang pas. Air rintik mulai menggelitik kepala dan tubuhku. Segera kutengok sebelah kiri. Yang kulihat saat itu jalan yang digunakan segala macam alat transpotasi tersebut dalam keadaan kosong melompong. Sebelum aku sempat menengok kesebelah kanan, hujan kian lebat, seakan-akan langit menyuruhku untuk segera membuka pintu rumah yang berada agak jauh di hadapanku. Saat kutengok ke sebelah kanan, sebagian besar jalan tertutup oleh angkutan umum lengkap dengan kak Hendra yang hendak membayar ongkos. Karena tak kulihat satu kendaraanpun, tanpa pikir panjang segera kuhentakan kaki secepat mungkin sambil memakai topi. Aku berlari melalui bagian depan angkutan berwarna biru yang mengantarku pulang. Tanpa sempat menghela nafas, kudengar suara yang agak keras yang menandingi suara derasnya hujan. BRAAAAKKK!.

Aku terjungkir dan entah apa lagi yang kualami. Tubuhku terpental dan terhempas bak seorang pemain sirkus yang sedang melangsungkan pertunjukan. Kucoba mengangkat tubuhku namun kepalaku serasa tertindih 3 ekor anak gajah. Tubuhku terbaring di tengah tempat berlalu lalangnya transportasi. Guyuran hujan yang deras seolah memaksa panasnya aspal untuk menyingkir dariku. Kulihat kak Hendra menghampiriku dengan wajah cemas. Diangkatnya tubuhku dan kucoba untuk berdiri namun sia sia bila tak ditopang tubuh kekar kak Hendra. Kulihat bapak keluar dari rumah. Ketika ia mendapati kak Hendra yang sedang menopang tubuhku yang tak berdaya, wajahnya berubah sangat pucat dan sedih. Tanpa mempedulikan hujan yang melemparinya dengan butir-butir partikel air, ia datang menghampiriku. Dengan cekatan bapakku  menopang tubuhku dan membawaku ke teras.

Kepalaku sudah mulai terasa agak ringan. Sementara kak Hendra menghubungi pak Ecep, seorang mantri (dokter) diseberang rumahku, Bapak dan Ibu meminumkan air hangat ke kerongkonganku yang basah. Kak Hendra memberi tanda bahwa pak Ecep berada di rumahnya. Bapakku langsung menopang tubuhku yang sekarang tidak merasakan suatu kesakitanpun selain kaki kanan yang entah berasa seperti apa. Sambil melewati derasnya hujan aku berjalan sebisa mungkin. Kulalui sebuah sepeda motor yang terbaring dan mengalami lecet-lecet. Kulihat sepasang suami istri yang terduduk di teras rumah pak Ecep. Ketika aku bertatap muka dengan mereka, wajahku bereaksi dengan melempar senyum namun tak terlalu digubris olehnya.

Aku terbaring di atas sebuah ranjang. Kudapati saat itu jam dinding menunjukkan pukul 15.05. ditanganinya luka-lukaku dengan cepat. Kulihat Ibuku memperhatikan pipi kananku. “Apa gerangan yang ia lihat?” pikirku dalam hati. Kusentuh pipi kananku, tak terasa apapun. Ketika kulihat jari-jari yang menyentuh pipi kananku, kudapati mereka bagaikan sosis goreng siap santap. Sekarang aku mengerti mengapa Ibuku menatap pipi kananku. Kulihat kedua lututku, keduanya sama-sama rusak bagaikan saudara kembar. Aku kembali ke rumah setelah diolesi semacam betadine pada luka-lukaku.

Sekitar sepuluh menit kemudian, mang Apik, seorang tukang pijat langganan bapakku datang. Aku terbaring lemas di ruang keluarga sambil ditemani ibu dan satu-satunya nenekku yang masih ada. Setelah kujelaskan yang terjadi, mang Apik segera mempersiapkan perkakas urutnya. Saat itu ia berkata “Upami hoyong ngagorowok, atanapi nangis teu kedah ditahan tahan nya de”. Perkataannya membuatku gentar teramat sangat. Aku jadi ragu apakah aku mau diurut. Namun, setelah aku diyakinkan oleh keluargaku, kucoba jalani dengan bayang-bayang nyeri. Pertama-tama ia mencari bagian yang sakit. Ditekan-tekannya paha kananku, aku meringis kecil. Setelah agak lama ia merekonstruksi sebagian otot-ototku, ia kembali berpesan. “Tahan nya de”. Belum sempat aku menjawab tiba-tiba kakiku ditekan dari atas kebawah dengan sangat kencang. Spontan aku berteriak sangat keras. Saking kerasnya, suara hujan yang mulai mereda tak dapat kudengar lagi. Tak terasa airmataku mengucur.

Dua hari telah berlalu. Aku masih belajar untuk berjalan seperti balita yang merangkak-rangkak mencoba umtuk berdiri. Seharian di rumah membuatku jenuh dan merasa kesepian. Kuisi waktu untuk menghibur diri dengan segala cara. Kulakan ini, kulakukan itu, aku tetap jenuh. Tiba-tiba kudengar suara gerbang yang terbuka. Dua buah suara kaum hawa terdengar mengucapkan salam. Segera ibuku menjawab. Ia memanggilku keruang tamu. Aku berjalan dengan memegang apapun yang ada di sekelilingku agar tidak terjatuh. Setelah perjuangan panjang, akhirnya aku tiba di ruang tempat menjamu orang singgah. Kedua orang tersebut menyapaku dengan senyuman yang ‘Subhanallah’. Kujawab dengan agak terbata. Mereka membawa dua buah kantong kresek yang entah apa isinya. Kurang lebih satu jam kami berbincang, mereka hendak pamit karena waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Walau agak kecewa, rasa jenuhku yang menghantui akhirnya sirna dan digantikan dengan bahagia. Saking bahagianya seolah aku dapat berjalan secara normal kembali.